Sabtu, 15 Desember 2012

Curhat Setan [Extended]: Al-Quran yang Dibakar!


Pembatalan pembakaran Al-Quran hanya omong kosong belaka. Faktanya, dua pendeta justru melakukannya. Yang melakukan bukan Pendeta Terry Jones, tapi kedua pengikutnya.

Pendeta Bob Old bersumpah melaksanakan aksinya membakar Al-Quran. Bersama Pendeta Danny Allen, Old melakukan aksinya di hadapan sekelompok orang yang sebagiannya merupakan awak media, Sabtu (11/9) lalu, sama persis pada hari yang dideklarasikan Terry Jones.

Kedua pendeta itu menyiram dua buah mushaf dan sebuah teks Islam lainnya dengan cairan pembakar, lalu menyulutnya dengan api. Mereka menyaksikan bersama-sama kitab suci umat Islam itu menjadi abu.

Aksi dua pendeta itu dilakukan di pekarangan belakang kediaman Old. Mereka mengatakan aksinya merupakan pesan dari Tuhan. Old mengatakan gereja telah mengecewakan banyak orang karena tidak mendukung aksinya. “Saya yakin bahwa sebagai negara kita berada dalam bahaya,” ujarnya sebagaimana dikutip media online Tennessean (12/10).

“Ini adalah buku berisi kebencian, bukan cinta,” katanya sambil memegang Al-Quran sebelum kemudian membakarnya. “Ini adalah kitab palsu, Nabi Muhammad adalah nabi palsu dan itu merupakan wahyu palsu,” tambahnya.

Kedua pendeta itu lantas melakukan apa yang disebutnya sebagai “demonstrasi damai” dengan sedikit gegap gempita. Delapan orang wartawan ikut menyaksikan aksi kedua rohaniwan gereja itu. [Gila, Al-Quran Ternyata Jadi Dibakar, metrotvnews.com]“

Anjing!” rutuk saya sesaat setelah membaca berita itu, “Ini gila! Kita harus perang! Terkutuklah mereka!” Umpatan-umpatan dan caci-maki saya keluar tanpa kontrol.

“Setan!” teriak saya sekali lagi.

Tiba-tiba Tuan Setan muncul di hadapan saya! Wajahnya penuh kemarahan. “Bakarlah Al-Quranmu!” kata Tuan Setan tiba-tiba.

Jelas saya berang mendengar ucapannya. Emosi saya naik pitam. Dada saya turun naik. Dan seketika kutuk dan serapah membrudal dari mulut saya. “Percuma selama ini aku mulai menaruh rasa simpati kepadamu! Kau ternyata memang pantas dilaknat dan dimusuhi! Terkutuklah kau!”

“Bakarlah Al-Quranmu!” katanya sekali lagi, dengan nada yang lebih tegas. Matanya nyalang. Gigi-giginya gemertak. Lalu telunjuknya mengarah tepat ke wajah saya. “Bakar!” ia berteriak, “Bakarlah kalau memang selama ini ia hanya menjadi kertas, bakarlah! Bakarlah!”

Napas saya turun naik, mata saya memerah, tangan saya mengepal. “Terkutuklah kau!” teriak saya.

“Mana Al-Quranmu!?” bentak Tuan Setan.

Tiba-tiba saya tersintak. Tiba-tiba saya merasa harus menemukan Al-Quran milik saya yang entah saya simpan di mana, sementara Tuan Setan terus menerus berteriak “Bakar! Bakarlah Al-Quranmu!” Saya terus mencari. Di manakah saya menyimpan Al-Quran saya? Saya membongkar isi lemari, mengeluarkan buku-buku, berkas-berkas, tumpukan kliping koran, dan kertas-kertas apa saja dari dalam lemari. Di manakah Al-Quran saya? Saya mulai resah mencari di mana Al-Quran saya. Saya ke ruang tamu, ke ruang tengah, ke dapur, ke seluruh penjuru rumah. Saya memeriksa ke belakang lemari, ke sela-sela tumpukan kaset dan CD-CD, ke mana-mana. Tetapi, saya tak menemukan Al-Quran saya! Di manakah saya menyimpan Al-Quran saya?

“Bakarlah Al-Quranmu!” sementara Tuan Setan terus-menerus berteriak, “Bakar!”

Saya mulai panik dan resah, kemarahan saya mulai pudar, ternyata saya tak bisa menemukan Al-Quran saya sendiri.

“Bakarlah Al-Quranmu kalau itu hanya menjadi kertas usang yang kausia-siakan!” kata Tuan Setan tiba-tiba.

Dada saya berguncang hebat. Pelan-pelan tapi pasti saya mulai menangis—tetapi saya belum menyerah untuk terus mencari Al-Quran saya. Di mana Al-Quran saya? Ada sebuah buku tebal berwarna hijau di atas lemari tua di kamar belakang, saya kira itulah Al-Quran saya, setelah saya ambil ternyata bukan: Life of Mao. Saya kecewa. Saya terus mencari sambil diam-diam air mata saya mulai meluncur di tebing pipi.

“Bakarlah Al-Quranmu!” suara Tuan Setan kembali memenuhi ruang kesadaran saya. Tetapi kini saya tak bisa marah lagi, ada perasaan sedih dan kecewa mengaduk-aduk dada saya. Ada sesak yang tertahan, semantara isak tangis tak sanggup saya tahan.

Akhirnya saya menyerah. Saya tak menemukan Al-Quran saya di mana-mana di setiap sudut rumah saya!

Kemudian Tuan Setan tersenyum menang, ia menyeringai dan menatap saya dengan sinis. “Jadi, kenapa kau mesti marah saat ada orang yang membakar dan menginjak-injak Al-Quran?” kemudian ia tertawa. “Lucu! Ini lucu! Mengapa kau mesti marah sedangkan kau sendiri tak memperdulikannya selama ini?”

Saya terus menangis. Dada saya berguncang. Tuan Setan tertawa. “Jadi, mengapa kau mesti mengutuk mereka yang menyia-nyiakan dan merendahkan Al-Quran sementara kau sendiri melakukannya—diam-diam?” katanya sekali lagi. Ada perih yang mengaliri dada saya, mendesir gamang ke seluruh persendian saya.

Tiba-tiba saya ingat sebuah tempat: gudang belakang rumah. Barangkali Al-Quran saya ada di situ!

Saya bergegas bangkit dari tubuh saya yang tersungkur, saya berlari menuju gudang belakang, membuka pintunya, lalu menyaksikan tumpukan barang-barang bekas yang usang dan berdebu. Sebuah kotak tersimpan di sudut ruang gudang, saya segera ingat di situlah saya menaruh buku-buku bekas yang sudah tua dan tak terbaca. Seketika saya hamburkan isi kotak itu, membersihkannya dari debu, dan akhirnya… saya mendapatkannya: Al-Quran saya!

Saya menatap Al-Quran saya dengan tatap mata rasa bersalah. Saya mengusap-usapnya, meniupnya, membersihkannya dari debu yang melekat di mushaf tua itu. Kemudian Saya mendekapnya erat-erat—mengingat masa kecil saya belajar mengeja huruf hijaiyyah, menghafal surat Al-Fatihah… “Astagfirullahaladzhim…” tiba-tiba dada saya bergemuruh, air mata saya menderas.

Tuan Setan tertawa lepas. “Bakar saja Al-Quranmu!” katanya sekali lagi, “Bukankah ia tak berguna lagi bagimu?” nada bicaranya mengejek.

Saya masih mendekap Al-Quran saya, tergugu dengan dada seolah tersayat sembilu.

“Jika pendeta yang membakar Al-Quran itu mengatakan bahwa Al-Quran adalah buku yang penuh kebencian, bukankah mereka hanya menilainya dari perilaku yang kalian tunjukkan? Bila mereka mengira Al-Quran hanyalah kitab omong kosong dan Muhammad yang membawanya hanya nabi palsu yang berbohong tentang firman, bukankah itu karena kau—kalian semua—tak pernah sanggup menunjukkan keagungan dan keindahannya? Kau, kalian semua, harus menjelaskannya!

“Jangankan menunjukkan keindahan dan keagungan Al-Quran, membacanya pun kau tak! Jangankan menaklukkan musuh Tuhan sementara menaklukkan dirimu sendiri pun kau tak sanggup! Apa sih maumu? Al-Quran tak pernah mengajarkan permusuhan dan kebencian, Al-Quran tak pernah mengajarkan hal-hal yang buruk, lalu kenapa kau terus-menerus melakukannya? Al-Quran selalu mengajarimu kebaikan, mengapa kau tak pernah mau mengikutinya? Heh, ya, aku baru ingat, jangankan mengikuti petunjuknya, memahami dan membacanya pun kau tak!

“Lalu kenapa kau harus marah ketika Al-Quran dibakar? Mengapa kau tak memarahi dirimu sendiri saat kau menyia-nyiakan Al-Quranmu? Ini bukan semata-mata soal pendeta yang membakar Al-Quran, ini bukan semata-mata soal pelecehan terhadap institusi agamamu, ini bukan semata-mata soal permulaan dari sebuah peperangan antar-agama, ini semua tentang kau yang selama ini menyia-nyiakan Al-Quran, tentang kau yang secara laten dan sistematis menyiapkan api dan bensin dari perilaku burukmu untuk menunggu Al-Quran dibakar lidah waktu yang meminjam tangan orang-orang yang membenci agamamu! Mereka tak akan berani membakar Al-Quran, kitab sucimu itu, kalau saja selama ini kau sanggup menunjukkan nilai-nilai agung yang dibawa Nabimu, nilai-nilai kebaikan yang termaktub dalam teks suci kitab yang difirmankan Tuhanmu! Maka bila kau tak sanggup menggemakan Quran amanat nabimu ke segala penjuru, tak sanggup menerima cahayanya dengan hatimu, bakarlah Al-Quranmu! ”

Lalu seketika terbayang, Al-Quran yang teronggok sia-sia di rak-rak buku tak terbaca, Al-Quran yang diletakkan di paling bawah tumpukkan buku-buku dan majalah, Al-Quran yang kesepian tak tersentuh di masjid dan langgar-langgar, Al-Quran yang tak terbaca dan (di)sia-sia(kan)!

Saya menangis; memanggil kembali hapalan yang entah hilang kemana, mengeja kembali satu-satu alif-ba-ta yang semakin asing dari kosakata hidup saya. Saya melacaknya dalam ingatan saya yang terlanjur dijejali kebohongan, kebebalan, penipuan, dan pengkhiatan-pengkhiantan. Di manakah Al-Quran dalam diri saya?

“Maka, bakarlah Al-Quran oleh tanganmu sendiri!” kata Tuan Setan, “Hentikan airmata sinetronmu, hentikan amarah palsumu, hentikan aksi solidaritas penuh kepentinganmu, hentikan rutuk-serapah politismu, sebab kenyataannya kau tak pernah mencintai Al-Quran! Bakarlah!”

Tuan Setan tertawa lepas.

“Maafkan…” suara saya tiba-tiba pecah menjelma tangis, “Maafkan…,” lalu saya bergegas pergi dengan Al-Quran yang kugamit di lengan kananku.

“Bakar saja Al-Quranmu!” teriak Tuan Setan yang kutinggalkan di gelap ruangan gudang. Lamat-lamat tawanya masih ku dengar di ujung jalan.

Saya mencari masjid, saya ke mal, saya ke pasar, saya ke terminal, saya ke sekolah, saya ke mana-mana… Saya ingin mencari mushaf-mushaf Al-Quran yang disia-siakan. Saya ingin membersihkannya dari debu dan mengajak sebanyak mungkin orang membacanya. Saya masih bergegas dengan langkah yang galau. Saya ingin mengabarkan keagungan dan keindahan Al-Quran, tapi bagaimana caranya? Sedangkan saya sendiri tak memahaminya? Saya ingin menggaungkannya di mana-mana, tapi bagaimana caranya?

Saya terus bertanya-tanya bagaimana agar Al-Quran tak dibakar? Bagaimana agar Al-Quran tak terbakar? Bagaimana?

Ya, Tuhan akukah insan yang bertanya-tanya?
Ataukah aku Mukmin yang sudah tahu jawabnya?
Kulihat tetes diriku dalam muntahan isi bumi
Aduhai, akan kemanakah kiranya aku bergulir
Di antara tumpukan maksiat yang kutimbun saat demi saat
Akankah kulihat sezarah saja kebaikan yang pernah kubuat?

Ya Tuhan, nafasku gemuruh, diburu firmanmu!

[KH. Mustafa Bisri, Tadarus]

Saya terus menangis dalam langkah-langkah gelisah yang bergegas, haruskan saya melawan semua ini dengan amarah dan kebencian? Ataukah saya harus menunjukkan kepada mereka semua yang membenci Al-Quran bahwa sungguh mereka telah keliru? Haruskah saya kembali marah dan membakar kitab suci mereka di mana-mana, atau akan lebih baikkah jika saya jawab mereka dengan cinta dan kasih sayang—meneladani Muhammad dengan menunjukkan kepada mereka kebaikan cahaya Al-Quran karena sesungguhnya mereka hanya belum tahu!?

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bacalah!” tiba-tiba suara Tuan Setan datang lagi, “Biarkanlah mereka membakar mushaf sebab Al-Quran bukanlah kertas yang bisa mereka bakar. Bacalah Al-Quran hingga suaranya terdengar oleh hatimu, bergema di seluruh ruang kesadaranmu, maka kau tak akan kecewa mendapati mushaf-mushaf yang terbakar atau ayat-ayat yang teronggok di ruangan-ruangan tua berdebu buku. Sebab Al-Quran bukanlah mushaf, Al-Quran adalah semesta, nama di luar kata! Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.”

Saya terdiam mendengar kata-kata Tuan Setan yang terakhir, “Tuan Setan, sebenarnya siapakah kamu? Apa agamamu?”

Ia terkekeh, bahunya berguncang, “Akulah yang kau lihat dalam tidurmu: berlarian atau terbang atau tertawa tanpa suara, sesuatu yang lama kau idamkan tetapi lupa kau sapa. Akulah yang telah sengaja membakar Al-Quranmu!”

Ia terus terkekeh, terbatuk, lalu menghilang.

oleh : FAHD DJIBRAN

Some Quotes To Remember...

"Bila pemerintah tergantung pada para bankir untuk mendapatkan uang, maka bankirlah dan bukan pemerintah yang sedang memegang kendali. Tangan yang memberi di atas tangan yang menerima. Uang tidak mengenal nasionalisme, para bankir tidak memiliki patriotisme, satu-satunya tujuan mereka adalah keuntungan."
Napoleon, 1800

"Bila rakyat Amerika mengizinkan perbankan swasta untuk mengontrol uang dari mereka, pertama-tama lewat inflasi dan kemudian dengan deflasi, bank-bank dan korporasi yang mengelilinginya akan memisahkan rakyat Amerika dari properti mereka, sampai suatu hari anak-anak mereka akan bangun tidur tanpa rumah di atas tanah yang ditaklukkan oleh leluhur mereka."
Presiden Thomas Jefferson, 1802

"Saya tidak peduli siapa boneka yang akan dipilih menjadi Raja Inggris untuk memimpin kekaisaran yang mana mataharinya tidak pernah terbenam. Orang yang mengontrol suplai uang Inggris mengendalikan kekaisaran Inggris, dan sayalah yang mengontrol suplai uang Inggris."
Nathan Mayer Rothschild, 1815

"Siapa yang mengendalikan volume uang di sebuah negara adalah tuan sebenarnya dari industri dan perdagangan... dan ketika Anda sadar bahwa keseluruhan sistem ini sebenarnya mudah untuk dikendalikan, oleh sekelompok kecil orang, Anda tak perli diberitahu lagi dari mana datangnya periode deflasi dan depresi."
Presiden James Garfield, 1881 

"Cara terbaik untuk menghancurkan sistem kapitalisme adalah dengan merusak mata uangnya. Lewat inflasi yang berkelanjutan, pemerintah bisa menyita secara tersembunyi bagian terpenting dari kekayaan rakyatnya."
Vladimir Lenin, 1910

"Lenin memang benar. Tidak ada cara yang lebih halus, yang lebih pasti untuk menggulingkan basis eksistensi dari sebuah masyarakat selain dengan cara merusak mata uang mereka. Proses ini melibatkan semua kekuatan tak terliaht dari hukum ekonomi di sisi destruksi, dan dilakukan dengan cara di mana tak satu pun dari sejuta orang yang dapat mendiagnosakanya"
John Maynard Keynes, 1919

"Bila sebuah negara bisa menerbitkan surat hutang, maka dia juga bisa menerbitkan mata uang. Elemen yang membuat sebuah surat hutang baik, juga akan membuat mata uangnya baik... Benar-benar gila mengatakan sebuah negara bisa menerbikan 30 juta dolar surat hutang tetapi tidak boleh menerbitkan 30 juta dolar mata uang. Dua-duanya adalah janji untuk membayar, tetapi yang satu menguntungkan si pemberi riba, satunya lagi menguntungkan rakyat banyak."
Thomas Alfa Edison, 1921

"Saya tidak bisa bersepakat dengan pernyataan sejumlah orang bahwa kita sedang hidup di surga orang bodoh, bahwa kemakmuran yang kita alami di negara ini bisa menghilang dan menurun di masa yang akan datang."
E.H. Simmins, Presiden New York Stock Exchange, 1928
(Puncak kejayaan bursa saham di 1920-an) 

"Inilah saatnya membeli saham. Inilah saatnya kita mengenang kembali kata-kata dari J.P. Morgan... Siapapun yang pesimis terhadap Amerika akan jatuh bangkrut. Harga saham murah yang terjadi sekarang akibat penjualan histeris orang-orang tidak akan Anda lihat lagi di tahun-tahun mendatang"
R.W. McNeel, analis Wall Street, 30 Oktober 1929
(harga saham kemudian jatuh 90% dan baru naik kembali ke
level semula 25 tahun kemudian)

"Akhir dari kejatuhan bursa saham kemungkinan tidak akan lama lagi, paling lama dalam beberapa hari ke depan."
Irving Fisher, Profesor Ekonomi Yale University, 14 Nov 1929
(Awal masa Depresi Besar 1929-1934)

"Masa-masa terburuk sudah berlalu, saya punya keyakinan kita akan segera bangkit kembali."
Presiden Herbert Hoover, 1 Mei 1930

"Semua deposit box di bank dan institusi finansial sudah dikunci... dan hanya boleh dibuka bila didampingi oleh agen dari IRS."
Presiden F.D. Roosevelt, 1933
(perintah penyitaan emas terhadap rakyat Amerika)

"Sistem perbankan modern menciptakan uang tanpa modal. Proses ini kemungkinan adalah ciptaan paling luar biasa yang pernah ditemukan. Perbankan dilahirkan dalam ketidaksetaraan dan dosa. Bankir memiliki dunia. Anda bisa mengambil apapun dari mereka, tetapi biarkan hak untuk menciptakan uang di tangan mereka, maka dengan sebatang pena mereka akan menciptakan cukup uang untuk membeli semuanya kembali... Ambillah kekuasaan besar ini dari tangan mereka maka semua kekayaan besar seperti yang saya miliki akan lenyap, dan akan ada sebuah dunia yang lebih baik untuk hidup. Tetapi bila anda ingin terus menjadi budak dari bank dan membayar harga dari perbudakan, biarkanlah para bankir terus menciptakan uang dan mengontrol kredit."
Sir Josiah Stamp, 1941

"Dengan absennya standar emas, tidak ada lagi cara untuk melindungi nilai tabungan dari penyitaan melalui inflasi... Kebijakan finansial dari negara mengharuskan agar tidak ada cara apapun bagi pemilik kekayaan untuk melindungi diri mereka."
Alan Greenspan, 1966

"Siapa mengendalikan bahan pangan, dialah yang mengendalikan manusia. Siapa mengendalikan minyak, dialah yang mengendalikan benua. Siapa yang mengendalikan uang, dialah yang mengendalikan dunia."
Henry Kissinger, 1974

"Defisit Tidak Masalah."
Wakil Presiden Dick Cheney, 2002

"Perekonomian Amerika sangat kuat dan pantas dikagumi. Gejolak di pasr finansial akhir-akhir ini akan segera berlalu."
Presiden George W. Bush, 2007

"Saat Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni meminta agar semua bantuan dan pinjaman dari Amerika diberikan dalam mata uang Euro dan bukan Dolar Amerika, karena Israel menilai dolar Amerika sudah tidak layak untuk dijadikan mata uang internasional, jawaban dari Amerika adalah...

Dengan semangat Yom Kippur, kita tidak akan memaksa Israel untuk menerima bantuan kita dalam bentuk Dolar. Kita akan memberikan pinjaman kepada mereka dalam mata uang Euro atau mata uang apapun juga yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Kita harus menempatkan kewajiban kita kepada Israel di puncak prioritas nasional kita. Israel tidak boleh menderita ketidaknyamanan apapun sebungan dengan fluktuasi nilai tukar uang."
Sekretaris Negara Amerika, Condoleezza Rice 
21 September 2007

"Anda harus mencegah Iran memiliki senjata nuklir atau kita akan memasuki Perang Dunia III."
Presiden George W. Bush
(17 Oktober 2007)

Rabu, 12 Desember 2012

Animasi: Bagaimana sistem perBankan mencuri uang Anda


Kami menentang segala bentuk monolitis dan konspirasi kejam, yang menghandalkan kerahasiaan untuk menyebar pengaruhnya. ~Jhon F. Kennedy

Barang siapa yang mengorbankan kebebasan untuk mendapatkan keamanan, tidak akan mendapatkan keduanya. ~Ben Franklin

Sumber Asli

Senin, 10 Desember 2012

Profesor Filsafat vs Mahasiswanya

Alkisah, seorang profesor filsafat menantang mahasiswanya, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”

Seorang mahasiswa menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya.”

“Tuhan menciptakan semuanya?” tanya si professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya”, kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam sejenak lalu menjawab pernyataan professor tersebut, “Tapi, Pak, sejarah membuktikan bahwa “kejahatan” dan “kebaikan” itu bersifat relatif. Holocaust yang Anda nilai sebagai kejahatan adalah kebaikan menurut Fuhrer Ketiga Adolf Hitler dan menyantuni pengemis jalanan yang Anda nilai sebagai kebaikan adalah kejahatan sosial yang patut dikenai sanksi hukum menurut Pemda. “Kejahatan” dan “kebaikan” hanyalah kualitas sekunder dari hakikat yang kita sebut “tindakan”. “Kejahatan” dan “kebaikan” hanyalah istilah subjektif yang kita buat untuk menilai pengalaman kita terhadap suatu tindakan. Ketika Tuhan menciptakan sesuatu yang Anda sebut “kejahatan”, pada hakikatnya yang Dia lakukan hanyalah “bertindak”. Persepsi subjektif Andalah yang kemudian menilai “tindakan” itu sebagai “kejahatan” tanpa mau melihat sisi lain dari “tindakan” tersebut yang mengandung “kebaikan”. “Tindakan” Tuhan yang bagi Anda mungkin merupakan “kejahatan” tidak dapat kita anggap sebagai bukti bahwa Tuhan adalah kejahatan. Sesungguhnya “tindakan” tersebut hanyalah bukti bahwa Tuhan itu “berkuasa melakukan apapun yang Dia kehendaki”. Jika Anda masih beranggapan bahwa tindakan “jahat” Tuhan justru membuktikan bahwa Dialah “kejahatan”, maka Anda jelas sudah terjebak dalam kesesatan semantik, Pak. Memberi label subjektif terhadap suatu fenomena tidak serta-merta menjadikan label itu identik dengan fenomena tersebut sebagaimana melenyapkan label subjektif dari suatu fenomena tidak serta merta melenyapkan fenomena tersebut. Seingat saya, Anda sudah berbicara tentang hal ini beberapa waktu lalu.”

Si professor pun mulai bingung. Embun keringat mulai bermunculan di dahinya. Dia tak menyangka bahwa materi kesesatan semantiknya justru jadi “senjata makan tuan”.

Untuk menyelamatkan mukanya, dia pun mengalihkan topik pembicaraan, “Umm… Ya, saya ingat tentang kesesatan semantik itu. Tapi perlu saya garis bawahi di sini bahwa poin-poin dalam bab kesesatan semantik itu sangat kental dipengaruhi pemikiran John Locke. Kita tentu tahu bahwa pemikiran satu orang saja tidak cukup kuat untuk dijadikan alat bukti keberadaan Tuhan. Mari kita beralih ke topik yang lebih pasti saja. Yah… Sains… Matematika… Atau fisika mungkin?”

Seorang mahasiswa lain pun mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si professor, “itulah inti dari diskurus filsafat.”

Mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Tentu saja,” ungkap si professor. Raut muka si professor tidak berubah karena ia sudah mendengar argumen buruk seperti ini berulang kali.

Si mahasiswa menanggapi, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu nol mutlak atau 0 K atau -273 derajat Celcius adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Sang professor pun menjawab dengan tegas: “Kamu ingat bab mengenai kesesatan semantik dalam bukumu?”

Si mahasiswa kedua ini baru ingin menanggapi tapi si profesor ternyata terlalu percaya diri untuk langsung melanjutkan kata-katanya.

“Biar saya ulangi secara singkat. “Panas” dan “dingin” adalah istilah subjektif. Menurut John Locke, keduanya merupakan contoh “kualitas sekunder”. Kualitas sekunder merujuk kepada bagaimana kita merasakan suatu fenomena yang memang ada, dan dalam kasus ini pergerakan partikel atomik. Istilah “dingin” dan “panas” merujuk kepada interaksi antara sistem saraf manusia dengan variasi kecepatan dalam partikel atomik di lingkungan. Jadi apa yang sesungguhnya ada adalah suhu… istilah “panas” dan “dingin” hanyalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk menjelaskan pengalaman kita mengenai suhu.

Maka argumen Anda salah. Anda tidak membuktikan bahwa “dingin” itu tidak ada, atau bahwa “dingin” ada tanpa status ontologis. Apa yang Anda lakukan adalah menunjukkan bahwa “dingin” adalah istilah subjektif. Hapuskanlah konsep subjektif tersebut, dan suhu yang kita sebut “dingin” akan tetap ada. Menghapuskan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut.”

Mahasiswa pertama tadi pun menimpali, “Pak, mohon maaf, bukankah tadi Anda sendiri sudah mengatakan bahwa poin-poin dalam bab kesesatan semantik sangat rawan intervensi subjektif John Locke? Ditambah lagi, apa yang kita pahami sebagai “kesesatan semantik” ini ternyata dapat saya gunakan sebagai legitimasi tindakan “jahat” Tuhan. Bukankah penggunaan argumen “kualitas sekunder” ini hanya akan menunjukkan inkonsistensi dan subjektivitas Anda dalam diskursus filsafat yang semestinya rasional, konsisten, dan objektif ini, Pak?”

Si professor tersentak. Dia baru sadar bahwa beberapa saat sebelumnya dia telah berusaha mengabaikan argumen “kualitas sekunder” dari mahasiswanya itu dan kini justru dialah yang menggunakan argumen “kualitas sekunder” untuk mempertahankan posisinya. Dia terus berpikir keras untuk menemukan cara lain membantah si mahasiswa pertama ini.

“Pak, mohon maaf…” si mahasiswa kedua berkata sambil mengangkat tangannya. Si professor masih berpikir keras untuk menemukan bantahan yang tak kunjung muncul karena argumen-argumennya sendiri yang justru menyudutkan posisinya.

“Pak, mohon maaf, boleh saya menambahkan sesuatu?” tanya si mahasiswa kedua.

“Oh… Ng… Baiklah, apa itu?” si professor dengan ragu-ragu mengiyakan permintaan mahasiswa tersebut. Yah, hitung-hitung mengulur waktu, pikirnya.

“Anda sepertinya salah paham dengan penjelasan saya, Pak. Bukankah tadi Anda sendiri yang mengalihkan topik pembicaraan kita dari filsafat murni ke topik yang lebih empiris seperti fisika? Dengan demikian, bukankah sudah seharusnya Anda memahami perkataan saya dari perspektif fisika juga atau setidaknya sains secara umum? Dalam perspektif fisika, yang kita kenal sebagai “panas” sesungguhnya adalah salah satu bentuk energi, bukan sekedar “kualitas sekunder” sebagaimana yang Anda kira, Pak. Energi itu ada, kekal dan semua manusia berpendidikan tahu akan hal ini. Panas adalah salah satu bentuk energi. Dalam fisika, panas lebih dikenal sebagai energi kalor. Karena panas adalah bentuk energi sebagaimana halnya listrik dan cahaya, maka panas itu hakiki. Panas, dalam perspektif fisika, adalah fenomena nyata dan bukan sekedar kualitas sekunder.

Yang sesungguhnya merupakan kualitas sekunder itu justru suhu, yang Anda anggap sebagai sesuatu “yang sesungguhnya ada”. Dalam perspektif fisika, suhu hanyalah besaran yang kita buat untuk menyatakan tingkat energi panas dalam satuan derajat. Itulah mengapa saya katakan tadi bahwa suhu nol mutlak itu menggambarkan ketiadaan panas sama sekali. Yang saya maksud dengan “panas” adalah “energi panas”. Saya meringkasnya karena saya kira Anda mampu memahami pembicaraan saya dalam konteks yang sesuai. Saya kira, dengan berkata demikian, Anda akan memahami bahwa suhu hanyalah cara kita menggambarkan pengalaman terhadap energi panas. Tapi ternyata perkiraan saya meleset. Bantahan Anda tadi, Pak, justru menunjukkan betapa Anda tidak paham sama sekali tentang apa itu panas dan suhu dalam konteks fisika; konteks yang ironisnya Anda kukuhkan sendiri sebelum saya mengajukan pandangan saya. Saya jadi semakin yakin bahwa orang dengan ilmu filsafat tingkat tinggi tapi berwawasan sempit memang sangat potensial terlihat bodoh.”

Melihat diskusi tak imbang antara dua mahasiswa ini dengan si professor, kelas mulai tak fokus. Para mahasiswa lainnya mulai meragukan integritas si professor lewat dengungan-dengungan skeptis berfrekuensi rendah yang samar-samar mulai mewarnai seisi kelas.

Si professor pun semakin kehilangan muka yang sedari tadi ia coba selamatkan lewat argumen-argumen prematurnya. Ia sudah kehabisan akal. Ia terpaksa mengambil jalan pintas.

“Umm…,” gumamnya gugup dengan keberanian yang semakin surut.

“Terima kasih atas pertanyaan dan pendapat kalian berdua. Ngng…,” ujarnya berbasa-basi sebelum memuntahkan jurus pamungkasnya.

“Tanggapan kalian tadi sungguh luar biasa. Itulah yang saya harapkan dari diskursus filsafat kita pada pertemuan kali ini. Semoga besok-besok semakin banyak, ya, mahasiswa yang kritis seperti kalian berdua. Saya baru ingat kalau 10 menit lagi saya harus mengikuti rapat bersama Dekan Fakultas. Jadi, materinya saya cukupkan sampai di sini. Kesimpulannya, kita masih harus sama-sama belajar banyak soal logical fallacies, ya. Jadi, silakan buat makalah tentang jenis-jenis logical fallacies beserta cara membantahnya untuk kalian presentasikan pada pertemuan berikutnya,” si professor kali ini bertutur lancar menyamarkan rasa penasarannya sendiri sebagai tugas kuliah untuk mahasiswanya.

“Oh, ya, sebelum saya akhiri pertemuan kali ini, boleh saya tahu nama kalian berdua?” tanya si professor penuh dendam dari balik senyum kamuflasenya. Saking buyarnya konsentrasi si professor, dia sampai lupa nama para mahasiswanya yang sudah 12 kali pertemuan ia hadapi.

“Saya Fulan, Pak,” jawab si mahasiswa pertama.

“Saya Polan, Pak,” lanjut si mahasiswa kedua.

“Baik, Fulan, Polan, mulai pekan depan kalian tidak usah ikut kelas saya lagi, ya? Lebih baik kalian saya “luluskan” saja daripada bikin saya malu lagi di pertemuan berikutnya,” ujar si professor dengan memendam tekad bulat untuk memberikan nilai “D” kepada dua orang mahasiswanya yang bebal ini.

 sumber dan aslinya

Sabtu, 08 Desember 2012

Kekasihku Menemuiku Di Pembaringan

kawan-kawanku...taukah kamu kekasihku menemuiku semalam,,
aku tercengan dan menangis setelahnya.
kau tau...apa yang membuatku menangis?
Oh..kawan Aku bahagia, Dia mengatakan bahwa Ia Mencintaiku sepenuhnya.

Selama ini aku merasa terabaikan OlehNYA.
Tetapi salah!
Akulah yang mengabaikanya...

Memang betul dalam sehari Aku bisa menemuinya beberapa kali.
Tetapi selalu sekejab, selalu saja aku terburu-buru...
Oleh banyak hal aku tak peduli.

Aku bahagia, aku sedih, terluka...
Aku tidak pernah betul-betul merasakan kalau aku pernah mengatakan
kebahagianku dan kesedihanku yang sesungguhnya.

Aku sibuk berfacebook Ria---
Aku meras bahagia...Tertawa di depan monitor
Ngobrol ini itu...
Bahkan sampai berjam-jam lamanya aku tak peduli

Kekasihku terlalu penyayang untuk menegurku sekalipun...
Terlalu penuh kasih untuk menyakitiku hingga harus meninggalkan facebook...
dan sebetulnya bukan hanya facebook...Hingga mengabaikan kekasihku
Tetapi banyak hal lainya lagi...

Semalam...Saat dipembaringan Ia datang menemuiku...
Sayang...Kenapa tidak main facebook???
Kamu bosan atau capek?
Tidak biasanya...
----Aku Diam seribu bahasa,...

Kau tau sayang...Sudah lama kita tidak pernah betul-betul berbicara dari hati ke hati. Tapi sudahlah sayang...Tak perlu kau pikirkan. Jelas Aku mencintaimu selalu. Dan bahkan lebih dari yang kau tau.

Bahkan...maaf. Surat-suratkuPun tak lagi pernah kau baca
Kau betul-betul sibuk ya...Tidakkah kau merindukanku sayang???
Hingga surat-suratkupun terabaikan olehmu.
Oh semua karena facebook

Sejak kau mengenal facebook,
Tidurmu selalu larut...Bangun saat pagipun sering kesiangan.
Sayang...Kalau bisa perlahan bagi waktumu ya sayang,...
Marilah kita kembali untuk kebahagiaan hakiki...

Lihatlah tubuh mungilmu kini semakin kurus...
Mari kembalilah kepadaku...
Sesungguhnya kau sungguh berharga sayang hanya karena kesenangan duniawi...Akulah kekasihmu yang sesungguhnya Akulah Tuhanmu.
Kembalilah kepadaku...Aku kan berikan kebahagiaan itu. Dunia akhirat---