Senin, 10 Desember 2012

Profesor Filsafat vs Mahasiswanya

Alkisah, seorang profesor filsafat menantang mahasiswanya, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”

Seorang mahasiswa menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya.”

“Tuhan menciptakan semuanya?” tanya si professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya”, kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam sejenak lalu menjawab pernyataan professor tersebut, “Tapi, Pak, sejarah membuktikan bahwa “kejahatan” dan “kebaikan” itu bersifat relatif. Holocaust yang Anda nilai sebagai kejahatan adalah kebaikan menurut Fuhrer Ketiga Adolf Hitler dan menyantuni pengemis jalanan yang Anda nilai sebagai kebaikan adalah kejahatan sosial yang patut dikenai sanksi hukum menurut Pemda. “Kejahatan” dan “kebaikan” hanyalah kualitas sekunder dari hakikat yang kita sebut “tindakan”. “Kejahatan” dan “kebaikan” hanyalah istilah subjektif yang kita buat untuk menilai pengalaman kita terhadap suatu tindakan. Ketika Tuhan menciptakan sesuatu yang Anda sebut “kejahatan”, pada hakikatnya yang Dia lakukan hanyalah “bertindak”. Persepsi subjektif Andalah yang kemudian menilai “tindakan” itu sebagai “kejahatan” tanpa mau melihat sisi lain dari “tindakan” tersebut yang mengandung “kebaikan”. “Tindakan” Tuhan yang bagi Anda mungkin merupakan “kejahatan” tidak dapat kita anggap sebagai bukti bahwa Tuhan adalah kejahatan. Sesungguhnya “tindakan” tersebut hanyalah bukti bahwa Tuhan itu “berkuasa melakukan apapun yang Dia kehendaki”. Jika Anda masih beranggapan bahwa tindakan “jahat” Tuhan justru membuktikan bahwa Dialah “kejahatan”, maka Anda jelas sudah terjebak dalam kesesatan semantik, Pak. Memberi label subjektif terhadap suatu fenomena tidak serta-merta menjadikan label itu identik dengan fenomena tersebut sebagaimana melenyapkan label subjektif dari suatu fenomena tidak serta merta melenyapkan fenomena tersebut. Seingat saya, Anda sudah berbicara tentang hal ini beberapa waktu lalu.”

Si professor pun mulai bingung. Embun keringat mulai bermunculan di dahinya. Dia tak menyangka bahwa materi kesesatan semantiknya justru jadi “senjata makan tuan”.

Untuk menyelamatkan mukanya, dia pun mengalihkan topik pembicaraan, “Umm… Ya, saya ingat tentang kesesatan semantik itu. Tapi perlu saya garis bawahi di sini bahwa poin-poin dalam bab kesesatan semantik itu sangat kental dipengaruhi pemikiran John Locke. Kita tentu tahu bahwa pemikiran satu orang saja tidak cukup kuat untuk dijadikan alat bukti keberadaan Tuhan. Mari kita beralih ke topik yang lebih pasti saja. Yah… Sains… Matematika… Atau fisika mungkin?”

Seorang mahasiswa lain pun mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si professor, “itulah inti dari diskurus filsafat.”

Mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Tentu saja,” ungkap si professor. Raut muka si professor tidak berubah karena ia sudah mendengar argumen buruk seperti ini berulang kali.

Si mahasiswa menanggapi, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu nol mutlak atau 0 K atau -273 derajat Celcius adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Sang professor pun menjawab dengan tegas: “Kamu ingat bab mengenai kesesatan semantik dalam bukumu?”

Si mahasiswa kedua ini baru ingin menanggapi tapi si profesor ternyata terlalu percaya diri untuk langsung melanjutkan kata-katanya.

“Biar saya ulangi secara singkat. “Panas” dan “dingin” adalah istilah subjektif. Menurut John Locke, keduanya merupakan contoh “kualitas sekunder”. Kualitas sekunder merujuk kepada bagaimana kita merasakan suatu fenomena yang memang ada, dan dalam kasus ini pergerakan partikel atomik. Istilah “dingin” dan “panas” merujuk kepada interaksi antara sistem saraf manusia dengan variasi kecepatan dalam partikel atomik di lingkungan. Jadi apa yang sesungguhnya ada adalah suhu… istilah “panas” dan “dingin” hanyalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk menjelaskan pengalaman kita mengenai suhu.

Maka argumen Anda salah. Anda tidak membuktikan bahwa “dingin” itu tidak ada, atau bahwa “dingin” ada tanpa status ontologis. Apa yang Anda lakukan adalah menunjukkan bahwa “dingin” adalah istilah subjektif. Hapuskanlah konsep subjektif tersebut, dan suhu yang kita sebut “dingin” akan tetap ada. Menghapuskan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut.”

Mahasiswa pertama tadi pun menimpali, “Pak, mohon maaf, bukankah tadi Anda sendiri sudah mengatakan bahwa poin-poin dalam bab kesesatan semantik sangat rawan intervensi subjektif John Locke? Ditambah lagi, apa yang kita pahami sebagai “kesesatan semantik” ini ternyata dapat saya gunakan sebagai legitimasi tindakan “jahat” Tuhan. Bukankah penggunaan argumen “kualitas sekunder” ini hanya akan menunjukkan inkonsistensi dan subjektivitas Anda dalam diskursus filsafat yang semestinya rasional, konsisten, dan objektif ini, Pak?”

Si professor tersentak. Dia baru sadar bahwa beberapa saat sebelumnya dia telah berusaha mengabaikan argumen “kualitas sekunder” dari mahasiswanya itu dan kini justru dialah yang menggunakan argumen “kualitas sekunder” untuk mempertahankan posisinya. Dia terus berpikir keras untuk menemukan cara lain membantah si mahasiswa pertama ini.

“Pak, mohon maaf…” si mahasiswa kedua berkata sambil mengangkat tangannya. Si professor masih berpikir keras untuk menemukan bantahan yang tak kunjung muncul karena argumen-argumennya sendiri yang justru menyudutkan posisinya.

“Pak, mohon maaf, boleh saya menambahkan sesuatu?” tanya si mahasiswa kedua.

“Oh… Ng… Baiklah, apa itu?” si professor dengan ragu-ragu mengiyakan permintaan mahasiswa tersebut. Yah, hitung-hitung mengulur waktu, pikirnya.

“Anda sepertinya salah paham dengan penjelasan saya, Pak. Bukankah tadi Anda sendiri yang mengalihkan topik pembicaraan kita dari filsafat murni ke topik yang lebih empiris seperti fisika? Dengan demikian, bukankah sudah seharusnya Anda memahami perkataan saya dari perspektif fisika juga atau setidaknya sains secara umum? Dalam perspektif fisika, yang kita kenal sebagai “panas” sesungguhnya adalah salah satu bentuk energi, bukan sekedar “kualitas sekunder” sebagaimana yang Anda kira, Pak. Energi itu ada, kekal dan semua manusia berpendidikan tahu akan hal ini. Panas adalah salah satu bentuk energi. Dalam fisika, panas lebih dikenal sebagai energi kalor. Karena panas adalah bentuk energi sebagaimana halnya listrik dan cahaya, maka panas itu hakiki. Panas, dalam perspektif fisika, adalah fenomena nyata dan bukan sekedar kualitas sekunder.

Yang sesungguhnya merupakan kualitas sekunder itu justru suhu, yang Anda anggap sebagai sesuatu “yang sesungguhnya ada”. Dalam perspektif fisika, suhu hanyalah besaran yang kita buat untuk menyatakan tingkat energi panas dalam satuan derajat. Itulah mengapa saya katakan tadi bahwa suhu nol mutlak itu menggambarkan ketiadaan panas sama sekali. Yang saya maksud dengan “panas” adalah “energi panas”. Saya meringkasnya karena saya kira Anda mampu memahami pembicaraan saya dalam konteks yang sesuai. Saya kira, dengan berkata demikian, Anda akan memahami bahwa suhu hanyalah cara kita menggambarkan pengalaman terhadap energi panas. Tapi ternyata perkiraan saya meleset. Bantahan Anda tadi, Pak, justru menunjukkan betapa Anda tidak paham sama sekali tentang apa itu panas dan suhu dalam konteks fisika; konteks yang ironisnya Anda kukuhkan sendiri sebelum saya mengajukan pandangan saya. Saya jadi semakin yakin bahwa orang dengan ilmu filsafat tingkat tinggi tapi berwawasan sempit memang sangat potensial terlihat bodoh.”

Melihat diskusi tak imbang antara dua mahasiswa ini dengan si professor, kelas mulai tak fokus. Para mahasiswa lainnya mulai meragukan integritas si professor lewat dengungan-dengungan skeptis berfrekuensi rendah yang samar-samar mulai mewarnai seisi kelas.

Si professor pun semakin kehilangan muka yang sedari tadi ia coba selamatkan lewat argumen-argumen prematurnya. Ia sudah kehabisan akal. Ia terpaksa mengambil jalan pintas.

“Umm…,” gumamnya gugup dengan keberanian yang semakin surut.

“Terima kasih atas pertanyaan dan pendapat kalian berdua. Ngng…,” ujarnya berbasa-basi sebelum memuntahkan jurus pamungkasnya.

“Tanggapan kalian tadi sungguh luar biasa. Itulah yang saya harapkan dari diskursus filsafat kita pada pertemuan kali ini. Semoga besok-besok semakin banyak, ya, mahasiswa yang kritis seperti kalian berdua. Saya baru ingat kalau 10 menit lagi saya harus mengikuti rapat bersama Dekan Fakultas. Jadi, materinya saya cukupkan sampai di sini. Kesimpulannya, kita masih harus sama-sama belajar banyak soal logical fallacies, ya. Jadi, silakan buat makalah tentang jenis-jenis logical fallacies beserta cara membantahnya untuk kalian presentasikan pada pertemuan berikutnya,” si professor kali ini bertutur lancar menyamarkan rasa penasarannya sendiri sebagai tugas kuliah untuk mahasiswanya.

“Oh, ya, sebelum saya akhiri pertemuan kali ini, boleh saya tahu nama kalian berdua?” tanya si professor penuh dendam dari balik senyum kamuflasenya. Saking buyarnya konsentrasi si professor, dia sampai lupa nama para mahasiswanya yang sudah 12 kali pertemuan ia hadapi.

“Saya Fulan, Pak,” jawab si mahasiswa pertama.

“Saya Polan, Pak,” lanjut si mahasiswa kedua.

“Baik, Fulan, Polan, mulai pekan depan kalian tidak usah ikut kelas saya lagi, ya? Lebih baik kalian saya “luluskan” saja daripada bikin saya malu lagi di pertemuan berikutnya,” ujar si professor dengan memendam tekad bulat untuk memberikan nilai “D” kepada dua orang mahasiswanya yang bebal ini.

 sumber dan aslinya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar